Sawah yang Dikelola Secara Ekologis

Pestisida umumnya digunakan dalam sistem produksi tanaman pangan untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman dan memastikan hasil maksimal dengan nilai pasar yang tinggi. Namun, akumulasi input kimia ini di ladang tanaman meningkatkan risiko terhadap keanekaragaman hayati dan kesehatan manusia. Selain itu, orang semakin mencari makanan yang residu pestisidanya rendah atau tidak ada dan diproduksi secara berkelanjutan.

Beras ( Oryza sativa ) merupakan makanan pokok terpenting bagi sebagian besar penduduk dunia, terutama di Asia Timur dan Selatan, Timur Tengah, Amerika Latin, dan Hindia Barat. Secara global, beras menyediakan lebih dari seperlima kalori yang dikonsumsi manusia. Oleh karena itu, wabah hama serangga pemakan beras merupakan ancaman serius bagi keamanan pangan. Akhir-akhir ini, kehilangan hasil padi meningkat karena meluasnya wabah berbagai hama. Hama ini menyebabkan kerugian ratusan juta dolar setiap tahun dan mengancam ketahanan pangan di daerah di mana beras adalah makanan pokok. Studi terbaru menunjukkan bahwa wabah hama serangga dapat dikaitkan dengan penyalahgunaan insektisida yang mengancam seluruh ekosistem padi.

Lebih dari separuh populasi manusia dunia bergantung pada beras sebagai makanan pokok dan pestisida kimia untuk mengendalikan hama merupakan paradigma dominan dalam produksi beras. Sebaliknya, penggunaan musuh alami untuk membasmi hama tanaman berpotensi mengurangi input pestisida kimia dalam sistem produksi padi. Saat ini, predator dan parasitoid sering tidak bertahan di lanskap produksi padi karena tidak adanya tempat berlindung atau sumber nutrisi.

Pengendalian konservasi biologis melibatkan modifikasi lingkungan atau praktik yang ada untuk melindungi dan meningkatkan musuh alami dan mengurangi kerusakan hama. Pengelolaan habitat merupakan bentuk rekayasa ekologi yang bertujuan untuk menyediakan makanan dan tempat berlindung bagi agen pengendalian hama alami. Manipulasi habitat yang direncanakan dengan hati-hati dapat meningkatkan kelimpahan dan efektivitas musuh alami sambil mempromosikan keanekaragaman hayati dan kompleksitas struktural agroekosistem. Secara khusus, berikan musuh alami sumber daya yang diperlukan, seperti nektar, serbuk sari, tempat berlindung fisik, mangsa alternatif, inang alternatif, dll.

Konsep rekayasa ekologi telah digunakan untuk memulihkan atau meningkatkan keanekaragaman hayati di lanskap padi. Tidak seperti banyak tanaman berbunga, padi kekurangan sumber daya nektar bunga atau ekstra bunga yang dapat digunakan oleh musuh alami. Menanam tanaman bunga kaya nektar tambahan di lanskap padi dapat meningkatkan sumber daya musuh alami sepanjang tahun. Karakteristik habitat yang ditingkatkan ini dapat sangat mempengaruhi umur panjang, fekunditas dan perilaku musuh alami dan menyebabkan berkurangnya kelimpahan hama.