Bagaimana Penentuan Jenis Kelamin pada Mamalia

Isi

Mamalia merupakan salah satu jenis dari hewan. Berikut ini akan dijelaskan mengenai penentuan jenis kelamin pada hewan mamalia, ciri-ciri hewan mamalia dan pengertian hewan mamalia.

Binatang menyusui atau mamalia adalah kelas hewan vertebrata yang terutama dicirikan oleh adanya kelenjar susu, yang pada betina menghasilkan susu sebagai sumber makanan anaknya; adanya rambut; dan tubuh yang endoterm atau “berdarah panas”. Otak mengatur sistem peredaran darah, termasuk jantung yang memiliki empat ruang. Mamalia terdiri lebih dari 5.000 genus, yang tersebar dalam 425 keluarga dan hingga 46 ordo, meskipun hal ini tergantung klasifikasi ilmiah yang dipakai.

Ciri ciri mamalia:

  • Memiliki anggota gerak untuk berjalan, berenang, ataupun memegang sesuatu
  • Memiliki kelenjar susu (glandula mammae)
  • Bertulang belakang (vertebrata)
  • Memiliki rambut yang menutupi tubuhnya
  • Pada bagian jari mamalia memiliki kuku dan cakar untuk menangkap makanan atau memanjat.
  • Memiliki gigi taring, gigi seri ataupun gigi graham
  • Alat pernafasan  adalah paru – paru
  • Pembagian organ jantung adalah 2 serambi dan 2 bilik.
  • Pengaturan suhu tubuh termasuk homoiterm
  • Berkembang biak dengan melahirkan (vivipar) secara internal.
  • Tempat perkembangbiakan embrio di dalam rahim (uterus)

Pada mamalia jantan adalah spesies heterogamet (kromosom XY) dan betina adalah spesies homogamet (kromosom XX) dan ini adalah tahap pertama dalam perkembangan sistem reproduksi. Tahap ini terjadi pada zigot dan gen pada kromosom Y yang mengatur perkembangan gonad terhadap fenotip jantan. Oleh karena kromosom Y harus hadir untuk perkembangan jenis kelamin laki-laki, terlepas dari jumlah kromosom X.

Setiap kromosom Y mengandung Sex Determining Region (SRY) dan testis harus hadir untuk pembentukan karakteristik jantan. Hormon jenis kelamin yang diproduksi oleh gonad yang berkembang mempengaruhi perkembangan lebih lanjut dari organ reproduksi dan sistem saraf dan karena itu penting.

Perkembangan janin pada mamalia terjadi dalam lingkungan yang sangat hormonal dengan konsentrasi yang relatif tinggi estrogen dan progesteron dan karena selama tahap awal perkembangan embrio gonad harus menghasilkan testosteron dan molekul sinyal perkembangan lainnya agar testis dapat berkembang

Jika tidak ada testosteron yang diproduksi, organ reproduksi akan mengambil karakteristik perempuan sebagai default. Kelainan dapat terjadi jika gonad dalam genetik jantan tidak menghasilkan tingkat testosteron yang cukup.

Perkembangan genital dipengaruhi testosteron karena itu menginduksi penis dan skrotum untuk berkembang. Testosteron diubah menjadi dihidrotestosteron yang merupakan molekul sinyal yang bertanggung jawab atas penampilan eksternal dari penis dan skrotum. Tidak adanya testosteron mengakibatkan perkembangan klitoris, labia dan daerah kewanitaan.

Pengetahuan kita tentang penentuan seks mamalia didasarkan pada dua bidang utama studi. Pertama, karakterisasi peristiwa biologis yang menentukan perkembangan seksual individu, termasuk pola ekspresi gen, dan kedua, studi mutasi genetik pada manusia dan tikus yang menyebabkan fenotipe seksual abnormal.

Laki-laki di mamalia adalah spesies heterogamet (kromosom XY), dan perempuan adalah spesies homogamet (kromosom XX) dan ini adalah tahap pertama dalam pengembangan sistem reproduksi.

Tahap ini terjadi pada zigot dan gen pada kromosom Y yang mengatur perkembangan gonad terhadap fenotipe laki-laki. Karena kromosom Y harus hadir untuk pengembangan gender laki-laki, berapa pun jumlah kromosom x.

Kromosom Y setiap mengandung seks menentukan daerah (SRY) dan testis harus hadir untuk pembentukan karakteristik laki-laki. Hormon seks diproduksi oleh berkembang gonad mempengaruhi perkembangan lebih lanjut dari organ-organ reproduksi dan sistem saraf dan karena itu penting.

Perkembangan janin di mamalia yang terjadi di lingkungan sangat hormon dengan relatif tinggi konsentrasi estrogen dan progesteron dan karena selama tahap awal dari perkembangan embrio gonad harus menghasilkan testosteron dan perkembangan lain sinyal molekul sehingga testis dapat berkembang.

Jika tidak ada testosteron yang diproduksi, organ-organ reproduksi akan mengambil karakteristik perempuan sebagai default. Kelainan dapat terjadi jika gonad pada laki-laki genetik tidak menghasilkan cukup kadar testosteron.

Pengembangan genital dipengaruhi oleh testosteron karena itu menginduksi penis dan skrotum untuk mengembangkan. Testosteron dikonversi menjadi dihidrotestosteron yang merupakan sebuah molekul sinyal yang bertanggung jawab untuk tampilan eksternal penis dan skrotum.

Tidak adanya testosteron mengakibatkan pengembangan klitoris, labia, dan vagina. Jenis kelaminnya juga ditentukan menurut tipe XY seperti pada manusia.

Tipe XO

Tipe ini berlaku untuk belalang. Belalang jantan hanya memiliki sebuah kromosom kelmin. Oleh karena itu :
~ Belalang betina = XX
~ Belalang jantan = XO

Tipe ZW

Tipe ini berlaku untuk burung, amphibia, reptilia, ikan.
~ Burung betina = ZW
~ Burung jantan = ZZ
Yang heterogametik adalah betina, sedang yang jantan homogametik. Ini kebalikan dari manusia.

Tipe ZO

Tipe ini berlaku untuk unggas (ayam, itik, dsb).Yang heterogametik adalah yang betina karena hanya mempunyai sebuah kromosomkelamin saja. Yang jantannya adalah homogametik.
~ Ayam betina = ZO
~ Ayam jantan = ZZ

Tipe Ploidi

Berlaku untuk bangsa lebah, misalnya lebah madu. Seks pada serangga ini tidak ditentukan oleh kromosom kelamin melainkan oleh sifat ploidi dari serangga itu. Jika sel telur (haploid) dibuahi oleh spermatozoa (haploid), terjadilah lebah betin (diploid). Tetepi jika sel telur (haploid) berkembang secara parteogenesis maka terjadilah lebah jantan (haploid).